Hidup mati adalah resiko penyelam tripang di pulau tello nias



Seorang penyelam sudah pasti mempunyai tantangan dan resiko yang sangat besar untuk di hadapi.

Terutama para penyelam tripang yang hanya menggunakan alat selam seadanya untuk menelusuri alam bawah laut yang begitu amat dalam.

Tidak seperti para penyelam yang sudah profesional dan berpengalaman, yang menggunakan berbagi alat canggih dan moderen yang dapat menjaga keselamatan para penyelam itu sendiri.

Namanya saja apa adanya dan seadanya. Terutama dalam mencari nafkah untuk menyambung kehidupan sehari - hari.

Bukan hanya satu atau dua orang penyelam saja yang menjadi korban, tetapi banyak penyelam yang sudah merasakan dan mengalaminya.

Selagi dia masih menjadi seorang penyelam yang memasuki alam bawah laut, cepat lamanya, suatu saat dia akan pernah merasakan dan mengalaminya jua.

Tidak peduli seberapa besar pengetahuan dan pengalamannya dalam menyelam, karna alam bawah laut yang sangat dalam mempunyai hukum tersendirinya, bagi siapa saja yang mencoba untuk memasukinya.

Nyawa atau masa depan. Itulah dua resiko dan tantangan yang akan di hadapi oleh seorang penyelam tripang yang mengarungi dasar lautan yang amat dalam.

Pulau tello, nias selatan. Pulau yang terletak di daerah nias yang sebagian penduduknya mengelolah bisnis tripang dengan nilai pembelian yang cukup lumayan aduhai.

Sehingga dapat menggiurkan dan menarik perhatian banyak penyelam selain yang ada di pulau tello itu sendiri.

Bahkam beberapa pemilik kapal tripang mendatangkan beberapa orang penyelam yang berasal dari luar pulau tello. Seperti sibolga, pulau banyak, lampung, tanjung pinang dan jakarta. Sebagai bantuan tenaga selam.

Seperti yang tadi saya tuliskan di atas, bukan hanya satu atau dua orang penyelam saja yang gugur dari alam bawah laut. Tetapi banyak sekali.

Sehingga terkadang, sering penyelam sepulang dari laut sudah tidak bernyawa, meninggalkan sanak saudara dan keluarga yang sangat mereka cintai hanya dalam sekejap mata saja.

Tepi apa boleh buat, karna itu adalah resikonya dan tantangan yang harus di terima penyelam yang mengarungi dasar lautan untuk mencari tripang.

Salah - satunya, di desa simaluaya yang ada di pulau tello. Desa yang terbilang banyak korban, kehilangan pemuda - pemudanya yang berjuang di dasar lautan untuk mencari tripang.

Bahkan sampai sekarang, pejuang bawah laut di pulau tello dan desa simaluaya masih tetap exsis di dasar laut, walau nyawa dan masa depan adalah taruhan dan tantangannya.

Sedih jika ada teman penyelam yang seperjuangan di bawah lautan yang kehilangan nyawanya secepat dan semudah itu.

Tetapi lebih sedih lagi jika kehilangan masa depannya dalam berjuang untuk mencari nafkah di dasar lautan. Sehingga dia harus duduk di kursi roda untuk selamanya.

Seperti yang tadi saya tuliskan. Bukan hanya satu dua orang saja, tetapi banyak penyelam yang sudah mengalami dan merasakannya.

Namun, resiko dan tantangan yang begitu sangat besar untuk di hadapi, tidak sedikit pun membuat para penyelam tripang di pulau menjadi mudur, takut dan ragu sama sekali.

Karna dalam mencari nafkah, semua pasti ada resiko dan tantangan yang harus di hadapi oleh masing - masing orang.

Itulah pedoman dan motivasi para penyelam tripang di pulau tello yang mengarungi alam dasar lautan untuk mencari nafkah.

Semoga para teman - teman penyelam yang seperjuangan dalam mencari tripang di dalam dasar lautan, yang terlebih dahulu telah berpergian, selalu tenang dan damai disisi yang maha kuasa.

Setiap pekerjaan pasti ada tantangan dan resikonya. Tidak hanyak untuk penyelam tripang yang mengarungi dasar lautan untuk menyambung kehidupan.

Hidup mati ada di tangan yang kuasa, dan tidak seorang pun dapat untuk menggetahui atau menghindar darinya saat gilirannya tiba.

Untuk itu, walau banyak tantangan dan begitu besar resiko dalam mencari nafkah untuk menyambung kehidupan sehari, kita tidak perlu takut dan ragu sama sekali.

Meski itu di bawah laut, maupun dimana saja ada sumber rejeki yang serasa halal dan tidak bertantangan dengan apa yang di kehendaki dalam agama maupun yang maha kuasa.

Pepatah mengatakan "lebih baik mati di medan perang, dari pada mati di atas kasur. Lebih baik mati mencari nafkah, dari pada harus mati karna mencuri".

Penuli: (Watriman)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Hidup mati adalah resiko penyelam tripang di pulau tello nias"

Post a Comment

Berkomentar lah dengan baik, komentar yang disertakan dengan link kemungkinan tidak akan di terbitkan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel